1 JANUARI 2007
Silaturahim dan Satukan langkah ”The A Team ” Puri Pipit Mega Mendung.
Anggota tim inti roadshow FIM yang keren-keren dan kompak itu (Minus Robby Bagindo yang sedang menemani saudaranya yang sakit & Riza yang sudah berangkat ke Korea) kumpul merefleksikan perjalanan bangsa dan evaluasi program FIM sepanjang tahun 2006. Banyak cerita selama melanglang di beberapa daerah mulai Banten, Bandung, Jawa Tengah- Jawa Timur, Sumatera Barat, Sumatera Utara sampai Aceh, Bali dan Manado Sulut. Mulai dari yang lucu-lucu sampai yang mengharu biru dikenang dan di’lagukan’.
Untuk kasus Flu Burung, kita justru berkampanye ”Tumpas Flu Burung, bukan Unggasnya”. Masyarakat kita himbau agar jangan takut makan burung dan ayam, karena di negeri ini asupan protein termurah dan termudah diperoleh rakyat adalah produk unggas (telor&dagingnya). Apa jadinya kalau hanya karena kasus flu burung masyarakat ditakut-takuti untuk menkonsumsi semua produk unggas, kasus terburuk bisa terjadi lost generation. Generasi penerus akan bodoh karena kurang gizi. Dalam roadshow tersebut kita juga mendengar dan menyiarkan langsung jeritan para peternak lokal yang menderita kerugian karena omzetnya anjlok drastis lewat RRI programa nasional. Kita juga membantu menyemprot kandang-kandang ayam di pasar di Cikupa Banten.
Selain berkampanye Tumpas Flu Burung, FIM juga melakukan kampanye ”Bersiap Bencana” di daerah-daerah rawan bencana, agar jika esok bencana datang, masyarakat tahu apa yang harus mereka lakukan uuntuk penyelamatan. Hal ini kita lakukan mengingat negara kita adalah negara tersibuk di dunia untuk urusan penanganan korban bencana dan kerap dikritik negara lain, kenapa sebelumnya masyarakat tidak dipersiapkan, agar korban yang jatuh bisa diminimalisasi. Alhamdulillah berkat road show saudar FIM bertambah lagi, baik dari lembaga-lembaga terkait seperti Deptan, Depkes, BMG maupun tokoh pemuda dan masyarakat setempat (apalagi yang di Anyer full seru karena acara jadi 2 kali minggu, dan di-backup bapak-bapak aparat keamanan, para atlet layar, dan peselancar di sana)
Roadshow ini juga sekaligus menjadi ajang silaturahim para alumni FIM di daerah-daerah. Yang mengharukan adalah ketika Ali Murtadlo datang dari Bireun ke Banda Aceh di tengah malam buta karena harus berangkat dari Bireun sepulang kerja). Sampai di hotel tempat kami menginap Ali tidak tega membangunkan para tetua melainkan datang langsung ke kamar ”anak-anak”. Meski mereka sebelumnya tidak saling kenal (karena di FIM mereka berbeda angkatan), tapi langsung akrab dan lengket becandaan seperti saudara yang sudah lama tak jumpa.
Ada tamu juga dari Singapura, Fachrian mantan ketua PINTU (Pelajar Indonesia di NTU) yang biasa dipanggil Ai, yang kebetulan pernah gabung dalam ASA Muda juga. Ai yang sempat mempertontonkan kepiawaiannya menari ACEH terutama jabatannya sebagai ”Syeh’, menginspirasi ” the A Team” untuk menampilkan tari Saman dalam acara Peduli gathering nanti.
Meski penuh canda dan sedikit hura-hura plus huru hara karena ada acara bakar kambing bantal ( bukan guling
dan bikin kalian susah tidur kan ?, Pertemuan ” The A Team” plus para penggembira alias ’tim hore ’, teteup serius lho ketika mengevaluasi diri, dan menentukan program ke depan apalagi waktu Oom Inul (bapak Zainul Fikri) yang sangat pas kalau lagi berakting marah-marah itu menasehati agar senantiasa gigih bekerja dan menghargai uang, tapi jangan kikir.
Cerita Roadshow FIM di Padang.
Kalau di Padang, the “A” team didampingi juga oleh Om Nul, Tante Masnah, dan Om Azmi (menpora – mentri porak poranda, versi Barra). Berawal dari perjalanan di Padang-Padang Panjang-Bukittinggi ini lah bakat-bakat terpendam sebagai komentator Om Azmi, Tante Masnah, Om Nul, dan akhirnya mengaktualisasikan bakat tersebut di FIM V.
7 JANUARI 2007.
Peduli Gathering FIM di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki.
Silaturahim…silaturahim ! lagi-lagi kata itu mengalir deras sejak ide acara dicetuskan salah seorang alumni sampai acaranya memang jadi kenyataan. Ide awalnya hanya sederhana, sekedar kumpul-kumpul sambil bersayang-sayangan dengan para tim hore FIM yang selama ini memberikan perhatian yang luar biasa dalam berbagai ekspresi dan kemampuan. Ada Pak Buchori Nasution, Ibu Ida Hasyim Ning, pak Sofyan Djalil ( trainer Profesionalisme dalam FIM 1) Prof DR Hidayat Syarif. DR Muchtar Naim, Pak Sidqi Wahab dari DPR, ada ketua MUI Bpk Amidhan, pak Mark Sungkar, Ibu Amelia Naim dan keluarga besar pengajian Al-Munawwarah ( alumni ortu Labschool ) yang merupakan donator program bea siswa untuk alumni FIM yang berprestasi tapi orang tuanya tidak mampu. Dan banyak lagi yang namanya tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.
Disamping sekedar silaturahim, kami juga ingin menunjukkan support dan apresiasi terhadap apa yang dilakukan para pejuang kemanusiaan, baik yang berjuang secara berjamaah dalam suatu institusi maupun mereka yang berjuang sendiri-sendiri atas nama dan keinginan pribadi.
Tidak jelas siapa yang pertama kali mencetuskan judul acara “Peduli Gathering“, tapi yang jelas kami bersepakat untuk ‘ketemuan’seraya mendapatkan pencerahan seperti yang biasa dilakukan ”The A Team” di roadshow berkeliling ke berbagai kota di tanah air. Ada pencerahan sekitar flu burung yang selama ini isunya telah mematikan masa depan para peternak. Misi ” The A Team ” adalah bagaimana agar masyarakat waspada terhadap virus flu burung, tapi bukan memusuhi unggasnya (kasian mbok Berek dan kawan-kawan). Trus juga ada acara ” Bersiaga Bencana ”. Selama ini negara kita dituding sebagai pihak yang hanya sibuk mengevakuasi korban, tapi tidak peduli dan bersiap untuk menghadapi bencana (Tindak preventif).
FIM merasa perlu memberikan penghargaan kepada mereka yang dianggap pionir dan teruji istiqomah, konsisten dalam perjuangan kemanusiaannya. Rata-rata yang menerima award punya ’sejarah khusus’ dengan FIM. Mereka dibagi dalam beberapa kategori:
Untuk KERELAWANAN pilihan jatuh kepada:
- Dr Joserizal Jurnalis SpBo, dari MerC
Dr. Jose pejuang kemanusiaan itu tidak pernah absen untuk mengulurkan tangan ke setiap daerah yang sedang tertimpa bencana alam, beliau juga pernah ikut dalam perjalanan FIM ke Nias dan menjadi salah seorang trainer di atas kapal perang, dan bersama-sama FIM dan GOWA pernah mendirikan rumah sakit gratis untuk korban demam berdarah dari masyarakat tidak mampu
- Psikolog Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati.
Bu Elly ini adalah manusia pertama di negeri kita yang dikenal begitu gigih meneriakkan masalah ”Ketahanan Keluarga” sebagai langkah awal membangun ketahanan bangsa.
(Sejarah mencatat Bu Elly bersama YKBHnya ikut bersama-sama FIM, Salimah dan lembaga lain mendirikan ASA (Aliansi Selamatkan Anak) Indonesia.
- BEM UI .
Ini dia kumpulan anak muda hebat calon orang hebat yang tidak jera-jera untuk aksi kemanusiaan. Pa’E juga punya cerita yang mengharukan waktu zamannya Bang Gari sebagai ketua BEM, sedang mengumpulkan sumbangan. gula dan beras. Ada cerita soal kejujuran dan ketidakserakahan yang menjadi pelajaran dan catatan yang sering dibanggakan pa’E
Untuk kategori Seniman, penghargaan diberikan kepada :
- Almarhum Harry Rusli yang diterima oleh anaknya Yala Rusli.
Musisi ini dikenal gigih sampai akhir hayatnya mendidik anak-anak jalanan bermusik secara profesional.
- Ebiet G Ade.
Seniman yang suaranya selalu menyertai dan menginspirasi banyak pejuang kemanusiaan, utamanya tim relawan dan roadshow FIM dalam melakukan aksi kemanusiaan ke berbagai penjuru tanah air
Untuk kategori Media, mereka adalah : Harian Republika, Metro TV dan Radio Elshinta.
Sayang disayang…keesokan harinya di hampir semua media memuat berita kita tapi hanya menyorot dan menampilkan award untuk pak Ebiet dan beberapa media itu. (lagi..lagi yang lain seperti Dr. Jose terabaikan, makanya kami sebut mereka pejuang di jalan sunyi)
Acara juga dimeriahkan oleh tampilan para alumni FIM yang potensial, semisal Masmo (FIM 2) dengan solo Violinnya, ada paduan suara IPB, dan Tari saman sumbangan BEM UNJ. Meski persiapan hanya 1 minggu tapi penonton puas, dan panitia bisa tertidur pulas karena standard sukses bapak E hanya ”zero accident”itu dan yang pasti semua Alhamdulillah berjalan sesuai dengan skenario, apalagi untuk urusan makanan, mba Ina kita (Shakina Mirfa Nasution) memang paling jempolan.
2 FEBRUARI 2007
Kita berkumpul di rumah jl Imam Bonjol 66 untuk belajar bagaimana ”Membangun Rumah Tangga Sakinah, Mawaddah Warahmah”, yang sinerginya tidak hanya berhasil menerangi satu rumah tangga saja, tapi juga masyarakat sekitar dan Bangsa ini. Pelajaran yang membuat kita bersiap menghadapi pernikahan ini diberikan Ibu Elly Risman, bertepatan dengan menjelang akad nikah mba Putri dan kak Shin (seorang pecinta Indonesia dari Korea), putri bungsu bunda Masnah salah seorang pembina kita (yang jadi Ibu negara yang suka menghitung jumlah anggota kelompok dalam api ekspresi di FIM V kemaren ingat kan ?)
3-4 FEBRUARI 2007
FIM meninjau dan memberikan pertolongan seadanya untuk daerah yang terkena musibah banjir atas guidance adik-adik pengojek belanjaan di pasar Rawamangun yang biasa ’bersih-bersih’ kalau alumni FIM pada habis buka bareng dan buat acara yang bikin banyak sampah.
5-9 FEBRUARI 2007
FIM membuka dapur umum di Rawamangun dan Tebet. Selain belanja dan masak sendiri, kawan-kawan yang dulu pernah jadi pendengar setia Bapa’E&B dan bu’E turut mensukseskan program dapur umum, belum lagi gandengan dari Indonesia Peduli (dulu bapak E salah seorang penggagasnya) tiba-tiba berhasil menghimpun ribuan bantuan nasi bungkus dari sebuah hotel bintang 5. Sebagian pernah dikirim ke posko Syarif di Rorotan.
6 – 13 FEBRUARI 2007
FIM membuka posko di Babelan untuk beberapa daerah terisolir di sekitarnya, di bantu masyarakat setempat, dan Karang Tarunanya. Lebih merasa kuat karena kita juga didukung oleh Bulog, keluarga Ibu Ratna Megawangi, yayasan Nurani Dunia, Indosat, MerC dan SCTV. Oya juga ada bantuan Air bersih dari IP. Waktu itu rasanya ajaib sekali, di saat kita tiba di sana, daerah tersebut belum sama sekali tersentuh bantuan, bahkan kita sempat stress lantaran gak punya perahu karet (Mba Ina sampai nekad pesan minta dikirim sama Oomnya di AS). Banyak masyarakat terkurung di atap rumah, hingga akhirnya begitu banyak orang yang berduyun-duyun datang mungkin gara-gara masuk teve kali ya.
Ironisnya ketika ”The A Team” berkonsentrasi menolong orang, rumah mas Arif, salah satu alumni FIM, justru juga jadi korban banjir. Jadinya kita sempat datang menghibur eh dihibur dan menghibur diri deng…usai berbecek-becek ria di Babelan.
MARET – JUNI 2007
Saatnya FIM istirahat. Sebagian besar “The A&B Team“ sibuk mem-back-up program roadshow ASA ke beberapa daerah di Indonesia. Yang paling heboh ketika beberapa anggota ‘The A Team’ FIM ganti jaket sebagai ASA Muda ke Cirebon dan Tegal.
JULI 2007
Kita ikut YKBH dan beberapa lembaga lain mengkampanyekan gerakan nasional HARI TANPA TV. (Sayang logo FIM tidak terlihat nyata dipamflet-pamflet & brosur-brosur .Ada usul untuk logo yang lebih keren? hayo mana kader seniman FIM? tunjukkan kemampuanmu!!)
Kegiatan al : berupa kampanye penyadaran bahaya tayangan televisi yang tidak sehat, diskusi dan aksi damai.
15 AGUSTUS 2007
Kita berhimpun di ’goa persembunyian’ kita, membantu mempersiapkan/melaksanakan kegiatan aneka lomba dan bermain bersama anak-anak desa Citameang JABAR dalam rangka peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan yang setiap tahun diadakan ASA Indonesia di sana.
17 AGUSTUS 2007
Subhanallah, peringatan detik-detik proklamasi kali ini jauh lebih menggetarkan ketimbang tahun sebelumnya di tempat yang sama. Berbagai perlombaan juga jauh lebih seru ( Apalagi hadiahnya ), karena ada donatur (Pak Buchori Nasution Cs…makasih pak eh opung ) yang menyumbang tabungan pendidikan lewat satu bank pemerintah untuk anak-anak dan pak guru di sana.
7 SEPTEMBER 2007
Diskusi terbatas mengenai ’kepemimpinan kita saat ini’ sebagai pemanasan menjelang pelaksanaan latihan kepemimpinan tahunan FIM. Acara diikuti para dadengkot berbagai aliran (aktifis kiri dan kanan) trus juga ada para komandan Badan Eksekutif Mahasiswa dan alumni FIM di Paramadina.
Beberapa hari setelah itu kita dukung BEM Paramadina dalam aksi kemanusiaan ke Lembaga Pemasyarakatan Tangerang.
5-7 OKTOBER 2007
Panitia FIM V buka dan sahur bersama di Puri Pipit Mega Mendung sambil bahas persiapan FIM V.
Usai berkangen-kangenan sambil beradu argumen dan ide, acara ditutup dengan aksi pembagian sembako kepada warga kurang mampu di desa Citameang pada hari minggu tanggal 7 Okt. (Ada peserta paling perkasa datang dari Bandung dengan menunggang sepeda motor seorang diri….dialah Bobby Rahman ITB)
19-21 OKTOBER 2007
Pelatihan Kepemimpinan angkatan ke lima di Cibubur.
Inilah forum silaturahim tahunan sambil belajar dan tempat kita me’recharge’ diri.
Ada yang kurang dalam kepanitiaan kali ini (kak Daryanto korlap kita! yang penganten baru itu cihuy!) Beliau biasanya sejak FIM 1 sampai 3 asisten kak Defrizal ( korlapnya). Setelah kak Def ( mantan Ket BEM UNJ) menikah dan punya bayi maka kak Daryanto naik tahta jadi korlap di setiap acara, termasuk ekspedisi ke Anyer waktu persiapan roadshow. Ternyata saat FIM V, kak Syarif dan Aaf yang menjadi korlap tidak kalah keren.
Kemudian, ada Barra KM panglimanya di raja Singapura yang selalu ngaku dan diaku tercupu..ternyata ……( lihat rekaman testimoni pls J ). Dan….selalu juru dapur Uni Moli dan semuaaaaa putra-putri peradaban ( pinjem istilah kang Parlan ) memang gak salah kalo bikin semua pada ngiri liat kekompakan mereka eh kami kan? (pengakuan itu ada di salah satu/beberapa komentar peserta kok) dan bersiaplah para alumni terbaik FIM V untuk jadi panitia FIM berikutnya.
28 OKTOBER 2007
FIM diajak mendukung berbagai kegiatan kawan-kawan aktifis prodem, dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda. Realistis aja, kita tidak mungkin bikin acara sendiri, karena kawan-kawan seorganisasi di beberapa lembaga juga butuh dukungan, sementara dedeongkot FIM itu cuma punya sepasang tangan dan kaki. Ada diskusi di pelbagai tempat, ada peluncuran buku ( kaya’ Oom Andi Mallarangeng ) Sebagian kegiatan itu ada yang murni gerakan perjuangan, tapi mungkin ada juga yang gerakan politik. Itu tidak haram kan…monggo- monggo aja, ada saatnya kita yang jadi tim hore menonton, mengamati, menemploki, kalau perlu menyoraki suruh turun haahaaa
1 DESEMBER 2007
AKSI TOLAK KONDOMISASI
Baru beberapa menit lalu kami datang dari Bogor dan sempat silaturahim dengan para demonstran ‘magang’ dari IPB hee.heee (soalnya ngaku blum prof krn baru pertama kali belajar demo, krn biasanya cuna bisa demo keyboard…maklum anak band yang tadinya begitu yakin hanya musik yang dapat memfasilitasi untuk meneriakkan gejolak hatinya dan kini juga begitu yakin bahwa saatnya juga harus teriak di jalan krn teramat sering tidak didengar). Mohon maaf baru sekarang sempat menulis “Ucapan terimakasih dan rasa bangga kami” atas perjuangan kalian.
Tapi pagi Afi ( FK UNPAD ), Nunuk ( FKM UI ), JetC ITB , Win & Maghleb dari IPB dan anak SMA Dira, dengan gagah pasang spanduk2 yang kemaren dibawa dalam aksi. Pagi tadi itu aksi simpatik berlanjut di Gelora Senayan Jkt, sambil bagi-bagi brosur pencerahan kalian itu. Alhamdulillah sangat menarik perhatian ribuan pengunjung yang pagi tadi luar biasa banyak karena ada acara lain yang juga melibatkan dengan mahasiswa. Ada pengunjung yang melaporkan, beberapa mobil pabrik kondom sebelumnya nangkring dan berseliweran di daerah sana. tapi kemudian menghilang. (wallahualam)…..
Sejak kemaren tv memberitakan perjuanganmu, dan hari tadi semua koran yang kami beli memuatnya. Meski hampir semua mereduksi kehadiran kalian dengan estimasi yang hadir dalam aksi di bunderan HI cuma 200 orang…Hah? padahal dari hitungan kami, tak kurang 500 orang. (nasi bungkus 500 bh yang disiapkan ternyata tidak cukup, malah banyak yang tidak kebagian) Tapi ya begitulah… siapapun yang kepentingannya tergantung pada kapitalis tentu takkan suka aksi kalian yang menggentarkan geliat maksiatnya, dan akan bahu membahu mencari antek-anteknya.
Subhanallah…. bukan hanya kami yang mengagumi semangatmu nak, tapi juga berbagai kalangan intelektual dari perguruan tinggi dan lembaga terhormat di negeri ini. Percayalah nak, di balik perjuanganmu itu, begitu banyak tangan-tangan tertengadah kdpNYA dan mata yang basah dg bibir berucap doa untuk kesuksesan perjuangan dan keselamatanmu.
Malam-malam sebelum aksi, saya tahu bagaimana kalian menggalang kekuatan, bahkan sampai tengah malam saya masih dikabari bahwa ada beberapa perguruan tinggi yang ternyata sehati dan ingin bergabung dengan kalian. Terimakasih Dicky (mantan ket BEM UNJ).
Saya baru tahu juga kemaren itu bahwa Parlan Fighter, sang moderator kita ternyata jago orasi dan desain poster, begitu juga Titos, Ade, Adil, Arif,…..dan semua yang tentu saya tak sanggup sebut satu-satu.
Terimakasih juga untuk adinda dr Jose bersama ananda Uci, Mul dan nanda dr Mirna (kakaknya Mierza si buyung imut itu) yang sudah berjaga-jaga dengan ambulans MerCnya. Alhamdulillah tidak ada yang sakit dan cidera.(hanya 1 mhs perbanas yang pusing)
Kemaren juga sempat bersilaturrahim dengan beberapa alumni FIM terdahulu…. Subhanallah…. kalian begitu hebat….. Dalam beberapa hari bisa merencanakan dan membuat aksi yang menggetarkan itu. Dan Ivan ? wahhhh begitu banyak yang membanggakanmu nak. Hari ini semua media cetak ( yang saya baca )menulis nama Ivan.
Tapi kalian tak boleh lena dalam tepuk tangan, karena TEPUK TANGAN KERAP MENIKAM !!! Orang yang kena lensa, akan silau dan tak lihat lagi akan jalan yang ditapaki. (lagi-lagi ingat filosofi film trilogi Lord of the ring) ada satu scene yang menyorot bagaimana Frodo diingatkan Sam sahabatnya agar tidak menatap cahaya di rawa
mayat di dekat lembah mordor (?), agar tidak terjebak masuk rawa maut itu).
Anyway perjuangan kita masih panjanggggg….jauuuuuh dan berliku.(the Long and winding roaddddd kata John Lennon) Karena kita menghadapi kekuatan besar yang kerap tak terlihat nyata. karena mereka bisa menyaru menyerupai apa saja. Mereka mengintai dan saling bahu membahu untuk menghancurkan kalian. Aksi kemaren hanya sekedar memperingatkan mereka, bahwa Negeri ini, bangsa ini ada penjaganya. Tak semua penghuninya tertidur pulas.
Kalian masih berjaga-jaga dan TENTU akan berteriak setiap ada MALING yang masuk dan mengintai.
Selamat meneruskan perjuangan para pemimpin masa depan yang berakhlak mulia yang kami cintai !!! Semoga Allah selalu melindungi dan meridhoi. Amin
Berita Terkait





0 Tanggapan ke “Kaleidoskop FIM 2007”