Judul tulisan ini bukan berisi tentang lagu Rumah Kita (kalau ada yang ingat itu loh lagu yang dinyanyiin oleh banyak artis yang ternyata adalah lagu favorit dari BuE n PaE kita – penulis sudah beberapa kali mendengar beliau bernyanyi ^_^). Judul tulisan ini berhubungan tulisan sebelumnya yang berjudul Ramaikan Rumah Kita.
Sebagai pengantar penulis ingin mereview dulu bagaimana pertemuan penulis dengan Bunda di suatu siang di kantin Salman. Hari itu Bunda jauh-jauh dari Jakarta datang ke Bandung untuk bertemu dengan para kunang-kunang sekaligus untuk membagi mimpi FIM tahun ini. Bunda bercerita akan persiapan pelatihan FIM VI, hingga rencana seminar dan bakti sosial. Yah FIM tahun ini berbeda karena ada acara seminar dan bakti sosial. Sederhana saja alasannya bakti sosial diadakan untuk mendorong agar kami para pemuda dapat terjun langsung di lapangan. Do Kongkrit gitu…
Mimpi itu pun bersambung di pertemuan lain di puri Mega Mendung puncak, dalam waktu 2/3 malam alias J 12 malam beberapa alumni FIM plus BuE n PaE tentunya brainstorming persiapan tentang pelatihan FIM VI dan seminar. Di akhir sempat terjelaskan sedikit tentang acara bakti sosial yang konsepnya adalah semacam desa binaan. Cita-cita yang besar walaupun kutahu tidak mudah untuk melaksanakan hal tersebut dengan segala keterbatasan kami. Tapi mimpi itu tetap akan kami pegang.
Niatan pembuatan desa binaan pun ramai dibicarakan di rumah fimers (milis) dengan dimotori oleh orang biasa (nama disamarkan). Yah banyak masukan hingga saya pun tidak ingat apa saja masukan itu. Akhirnya suatu hari jumat di akhir bulan April PaE beserta orang biasa (nama disamarkan) berkunjung ke Bandung untuk melihat kampung calon desa binaan FIM. Saya lupa tepatnya apa hasilnya, namun akhirnya rencana pun berubah yaitu akan diadakan bakti sosial bersama dengan GAMAIS ITB. Yeah tidak hanya seminar saja kami menggandeng mahasiswa ITB tapi bakti sosial juga semata-mata atas niatan “beragam itu indah” (ini kata-kata saya saja). Namun walaupun kita akan mengadakan bakti sosial yang tidak bersifat kontinu itu tapi saya masih ingat PaE mengatakan kita tetap akan membuat desa binaan setelah seminar kebangkitan nasional. Yah, sebenarnya kalimat tersebut tidak masuk di pikiran saya karena saya pikir mungkin masih lama akan terlaksana karena fokus yang lain saja.
Akhirnya Bakti sosial di kampung 200 bersama GAMAIS ITB pun selesai dengan terbilang sukses. Yah menurut saya yang dua hari jalan-jalan kesana. Senangnya tentunya berasa punya keluarga baru karena mereka ramah sekali. Rata-rata anak FIM pun dikenal dekat oleh anak-anak kampung 200 terbukti ketika para alumni FIM bertemu lagi dengan anak-anak kampung 200 di aksi tolak porno dan seminar kebangkitan nasional. Ah, berinteraksi dengan mereka membuat segala rasa capek atas berbagai kegiatan FIM terasa kecil.
Rangkaian acara FIM dalam rangka menyambung Hari Kebangkitan Nasional pun ditutup dengan Talkshow nasional di ITB yang merupakan sekaligus Launching program rumah belajar KM ITB. Saat itulah menjadi awal perkenalan FIM dengan Rumah Belajar KM ITB. Usaha mahasiswa ITB untuk mengentaskan buta aksara menginspirasi FIM untuk juga terus merealisasikan mimpi untuk membangun bangsa dengan program community developmentnya. Seminggu setelah acara pun mulai bermunculan lagi ide-ide untuk membuat program semacam Rumah Belajar oleh FIM di jakarta. Yah bahkan lebih keren lagi di rumah fimers juga muncul diskusi tentang program comdev yang terbaik seperti apa. Terungkap pula bahwa ternyata banyak anak FIM yang juga aktifis-aktifis comdev di institusi maupun daerah masing-masing. Wah sekali lagi saya terpukau dengan kehebatan pemuda-pemuda Indonesia. Ternyata masih banyak yang Kongkrit!!! Terbayang bila hari ini banyak kegiatan perbaikan bangsa dari level grassroot itu akhirnya bisa membawa pengaruh besar bagi perbaikan masalah bangsa ini seperti kemiskinan.
Dengan semangat yang besar tersebut, Alhamdulillah kami difasilitasi sebuah rumah di daerah cimanggis untuk menjadi wahana bagi para alumni FIM untuk menebarkan cahayanya bagi masyarakat. Amanah yang tidak mudah tentunya namun semoga dari sebuah RUMAH KUNANG-KUNANG (atau ada yang usul nama lain? ) maka dapat menjadi salah satu puzle dalam merangkai cita-cita kami untuk menerangi bumi pertiwi ini. Amiiinnnn,,,, Doakan kami BuE dan PaE…
Dulu kami bermimpi untuk memiliki sebuah desa binaan tapi hari ini kami diberi jalan untuk mengelola sebuah Rumah untuk ‘Belajar’. Doakan semoga program tersebut dapat kontinu dijalankan layaknya program Rumah Cahaya oleh FLP (yeah awalnya penulis juga ingin menggunakan nama itu sayangnya sudah ada yang punya). Namun, juga semoga mimpi membangun sebuah desa itu tidak hilang begitu saja atau mungkin dijalankan oleh para pemuda di berbagai pelosok tanah air ini.
when there is a will, there is a way
Apa yang akan kita lakukan di RUMAH KITA?
Apa saja yang dapat menerangi ^_^. Sampai saat ini kami baru brainstorming apa yang akan kita lakukan di Rumah itu. Oleh karena itu, sangat diharapkan masukan buat semua teman-teman khususnya para alumni FIM yang terpisahkan oleh tempat, dari seluruh Indonesia.
Alamat lengkapnya di Jl. Putri Tunggal No 6, RT 7 RW 3. Kel. Harja Mukti. Kec. Cimanggis Depok.
InsyaAllah Launching Rumah kita tersebut akan diselenggarakan tanggal 20 Juli 2008, bertepatan dengan FIM (Forum Indonesia Mantu) di Taman Wiladatika. Pesan dari “Dewan Syuro” : Everyone invited.
Apa Arti Rumah KITA?
Kata KITA yang berarti Karya, Ilmu, Tekad, Amal.
Rumah Karya artinya semoga rumah ini bisa memfasilitasi kita mencipta dan menghasilkan sesuatu
Rumah Ilmu artinya semoga rumah itu dapat dijadikan ladang Ilmu, tempat mencari dan berbagi ilmu
Rumah Tekad artinya semoga orang yang berada di dalamnya selalu memiliki tekad yang besar
Rumah Amal artinya semoga dengan tekad dan ilmu yang kita miliki maka dapat dihasilkan karya yang bernilai amal di mata Allah.
Kata ‘Kita’ sendiri juga secara langsung membuka pintu bagi siapa saja untuk menjadi bagian dari Rumah ini
Kemiskinan dapat diartikan sebagai keterbatasan terhadap akses modal usaha, pendidikan, dan kesehatan. Beberapa parameter kemiskinan diantaranya pemenuhan kebutuhan pangan (2100 kalori/hari/jiwa) dan akses pendidikan. Strategi Bappenas dalam upaya menyelamatkan Indonesia dari kemiskinan diantaranya memenuhi kebutuhan dasar (pangan, pendidikan, kesehatan), pemberdayaan masyarakat, pembenahan sistem perlindungan sosial, dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dengan mengutamakan industri kecil dan menengah. Hal senada diungkapkan Mohammad Ismet, “Dari segi pemenuhan kebutuhan pangan, Bulog mengupayakan agar persediaan beras merata terhadap waktu dan tempat.”





Komentar Terakhir