Kalau kita renungkan sejenak, ternyata pandangan kita terhadap dunia selama ini sebenarnya didasarkan pada pengalaman dan pengayaan hidup yang kita alami. Pandangan kita terhadap apa yang baik dan mana yang buruk, benar dan salah, atau sekedar enak dan tidak enak, itu semua tidak kita miliki sejak lahir. Cara pandang itu terbentuk melalui proses panjang.
Sederhananya begini; mereka yang datang dari Sumatra Barat akan memandang rasa pedas sebagai lezat, sementara orang Jawa Tengah mungkin tidak akan merasakan kenikmatan sama begitu ia mencicipi makanan berlumur sambal yang disajikan itu. Mengapa demikian?? Salah satu jawabannya adalah: kebiasaan sejak kecil.
Kira-kira begitu juga dengan nilai-nilai setiap manusia. Mereka yang sejak kecil sudah terbiasa melihat orang tua mereka berbusana terbuka, akan menganggap pakaian yang menampilkan pusar sebagai sesuatu yang “tidak bermasalah”. Begitu pula seorang gadis yang diajarkan untuk selalu menjaga tubuhnya dengan berjilbab, akan panik ketika ada seorang tamu pria yang tiba-tiba saja tiba di depan pintu rumah, tatkala ia masih membiarkan rambutnya terurai tanpa penutup.
Intinya, tidak ada yang bisa sederhana dikatakan sebagai lebih benar daripada yang lain. Nilai-nilai tersebut sudah terbentuk melalui proses yang panjang sebelumnya.
Ketika RUU Pornografi mulai aktif lagi diperbincangkan di Indonesia 5 tahun lalu (RUU APP), berlangsung kontroversi yang tidak berkesudahan. Kubu yang mendukung menganggap pihak lain sebetulnya didasarkan pada kepentingan ekonomi (industri) dan keinginan untuk mendorong kebebasan seks di Indonesia. Kubu yang menolak menuduh pihak pertama sebagai kelompok tradisional yang ingin melakukan Islamisasi di Indonesia dan mengancam nilai-nilai kebhinekaan di negara kita.
Setelah kelompok pro mempelopori untuk terus menerus mengadakan silaturahmi kepada kelompok kontra, berdiskusi, menjelaskan pandangan secara historikal dan filosofis, membeberkan data-data aktual, serta mencoba berempati kepada kelompok kontra, ternyata dampaknya luar biasa. Banyak kelompok masyarakat dan tokoh-tokoh yang pada awalnya menolak, berubah haluan menjadi pendukung setia.
Melihat kondisi seperti ini, para ahli komunikasi lintas budaya percaya bahwa empati adalah kunci pemenangnya. Empati yang tanggap dijadikan strategi oleh kelompok pro. Empati pada dasarnya adalah “kemampuan seseorang untuk membayangkan dirinya berada pada posisi orang lain dan memandang dunia dari posisi orang lain itu”. Jika dengan empati bisa memenangkan hati lawan bicara, maka mudahlah kemudian mengajak hati itu hijrah bersama dengan kebaikan yang tidak hanya kita pandang baik, namun juga bisa membuat semuanya lebih baik.
Namun, yang paling disayangkan dari semua kebenaran dan kebaikan yang diyakini adalah, jika seseorang hanya egois memiliki cara pandang itu tanpa membaginya kepada orang lain. Menikmatinya sendiri, atau hanya sekelumit kelompok homogen, yang diisi oleh orang-orang yang mengalami sosialisasi nilai yang kurang lebih sama. Kebaikan yang tanpa menganggap kelompok yang lain ada. Kalau toh dianggap ada, hanya diperbincangkan sebagai lawan yang mengancam eksistensi. Sungguh sangat disayangkan kelompok baik yang egois seperti ini.
*****
Sebesar apapun untung yang didapat oleh orang diberi, masih akan lebih untung orang yang memberi. Para pemberi akan mendapat kebahagiaan lebih yang muncul dari dalam diri mereka, mendapat kemuliaan sebagai tangan yang diatas, dan mendapat balasan yang tak terduga-duga melalui hukum-hukumNya, yang sudah bekerja secara otomatis di dunia ini. Maka beruntunglah orang-orang yang masa hidupnya disibukkan dengan urusan kebaikan. Karena, menanam kebaikan adalah bagian paling bernilai dari bisnis kehidupan ini.
jika berkenan mohon sebarkan.
Wujudkan UU Pornografi di Indonesia.
demi masa depan dan moral bangsa yang lebih baik..
Lawan Industri pornografi yg melirik pasar Indonesia.
Selamatkan Anak Bangsa!!!
Baca surat dari tim ASA, MTP, FIM dll disini untuk mendapat penjelasan..
Parlan.





Komentar Terakhir