Anandaku tercinta…
Mungkin masih pegel-gegel dan lelah yang seusai FIM langsung dihadang ujian.
Beberapa hari ini setelah reda kesibukan rutin, kami sekeluarga punya agenda baru, melihat foto dan rekaman video FIM V yang sampai hari ini pun belum kelar kami tonton semua saking banyak n serunya. Ketika menatap semua dokumentasi itu, ingatan saya langsung melayang ke jaman 35 – 40 tahun silam…….

Di beranda sebuah rumah tua di desa Merden di daerah Banjarnegara Jawa Tengah seorang bocah menatap takjub beberapa ekor kunang-kunang yang disekapnya di dalam botol atau gelas-gelas besar ditutup kain kassa. Dan ritual tersebut merupakan cara ampuh orang tua dan paman-pamannya untuk menentramkan sang bocah jika rewelnya datang.

Mau tau bocah itu siapa ?
Bocah itu adalah saya yang kini sudah tak lagi muda. Namun selang waktu yang cukup panjang ternyata tak sanggup menghilangkan ingatan dan kekaguman saya pada kunang-kunang sang juru penerang. Bahkan hingga kini pun jika saya menyempatkan diri pulang kampung yang waktu kecil biasa kami singgahi jika libur panjang Ramadhan tiba, rasa rindu menatap kunang-kunang tetap ada. Masalahnya desa kami sekarang tak lagi gulita, dan kunang-kunang pun tlah lama menghilang. Sebagai gantinya saya kini melihat kunang-kunang pada sekelompok anak muda atau siapa saja penghamba kebajikan yang dapat menjadi penerang ketika negeri ini kian kelam di terpa bencana demi bencana.

Sekitar 5 tahun lalu, setiap akhir pekan saya usai siaran di radio Jakarta News FM, sepanjang jalan dari studio di Pondok Indah ke rumah di Rawamangun hampir selalu saja ada pendengar-pendengar setia yang mengajak berbagi, menelepon berkeluh kesah tentang keadaan bangsa. Kegelisahan demi kegelisahan yang saya tampung pada akhirnya juga melahirkan kegelisahan. Berujung ketika suatu malam, saya mendengar ada pendengar di radio yang sama, dengan nada tinggi memprotes suami saya yang sedang menjadi host bersama bapak Buchori Nasution dalam program ” Paradigma pendidikan “. Dengan nada tinggi, pendengar tersebut meminta pak Elmir dan pak Buchori berbuat sesuatu yang konkrit, tidak hanya berkoar-koar menebar wacana. Terus terang saya terganggu dan kasihan dengan pendengar yang kelihatan sedang ’stress’ tersebut. Andai saja dia tahu apa yang sudah dan sedang dilakukan suami saya selama ini, apalagi pak Buchori, tentu dia akan menyesal dan malu berkata begitu.
Malam itu saya susah tidur, dan berusaha memikirkan sebuah ide untuk berbuat sesuatu, apa kiranya yang masih bisa dan harus dilakukan lagi. Menyadari bahwa memekarkan sesuatu yang sudah layu dan menguatkan yang sudah lapuk adalah suatu kesia-siaan belaka, sama halnya seperti upaya-upaya perbaikan dengan berorientasi pada generasi produk baheula, maka saya yakin sekali bahwa satu-satunya harapan kini tertopang pada yang muda, dikau nak sayang, sebagai pemilik dan pengelola masa depan bangsa tercinta ini.
Bangsa ini tentu masih menyisakan harapan untuk menjadi Bangsa yang besar, dengan membangun dan membekali kaum mudanya untuk mewujudkan pemimpin masa depan yang cinta dan bangga terhadap Bangsa sendiri , punya harga diri, berkualitas, mandiri, berakhlak mulia, dan profesional.

Waktu saya masih remaja dulu ‘mupeeeeeng’ banget melihat kawan-kawan atau mendengar cerita tentang pelatihan kepemimpinan tingkat dunia yang waktu itu masih begitu sulit diakses. Adalah pak MT Widodo ( trainer ” Decision Making Process ” dalam FIM V) salah seorang pendengar setia kami yang begitu rajin hadir dalam setiap acara interaktif dan banyak memberikan masukan. Bahkan di awal FIM diselenggarakan, pak Widodo senantiasa mengingatkan detail setiap modul yang disusun pak Buchori dari belasan tahun riset kurikulum leadershipnya di Eropa dan Amerika. Kebetulan beliau adalah seorang ‘human resources expert’ yang waktu mahasiswa dulu beruntung pernah menjadi salah seorang duta Indonesia di ajang International Youth Exchange Program di Vancouver.

Bagi saya sendiri, pengalaman berkumpul dengan kaum muda dari berbagai pelosok dunia diawali ketika pernah terdampar di St Theresa 54th St Newyork. Dari sebuah puri bekas biara yang disulap jadi asrama putri tempat menampung mahasiswa dari berbagai negara itu, lahir begitu banyak ide dan kreatifitas yang terwujud dari sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang tidak ada, tak terpikir bahkan, menjadi ada.
Selain itu, kehadiran mahasiswa dan anak muda, yang entah mengapa ‘dilalah’
suka sekali ‘ngeriung’ di rumah kami di manapun kami bermukim, sejak kami masih berjuang hidup sebagai keluarga baru di Surabaya, Banjarmasin, Sidoarjo dan akhirnya kembali ke Jakarta.
Kecintaan kongkow-kongkow dengan yang muda di keluarga kami ditakdirkan Allah sudah dimulai sejak almarhum kakek saya dan mertua laki-laki saya semasa hidup (kata sabahat saya ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan suatu skenario Allah, begitu juga ketika saya yang sudah berikrar hengkang dari dunia peradioan, ternyata harus tampil lagi ketika melihat pak Buchori tetangga baik yang sudah dianggap ortu sendiri, yang selalu menggebu-gebu bekerja dan bicara masalah pendidikan dan kepemimpinan trus ada sahabat terkasih Dr. Ratna Megawangi yang tak pernah kehabisan energi mengelola dan bicara soal pendidikan dan karakter. Karena itu kami ( saya & suami ) berpikir harus membantu mereka berdua memasyarakatkan buah pikiran mereka.

Dari serpihan mozaik yang dulu pernah tercecer tadi lalu terangkum dalam sebuah perenungan “di malam-malam sulit tidur” maka tercetuslah sebuah ide yang awalnya saya beri nama ” Youth Indonesian Forum “, yang oleh suami saya lebih suka disebut dalam bahasa kita sendiri, FORUM INDONESIA MUDA. Kegiatannya kumpul-kumpul ngobrol soal bangsa, ada kegiatan sosial dan lain-lain, namun utamanya tentu pelatihan kepemimpinan.
Dalam hidup saya yang sarat dengan keajaiban-keajaiban sebagai anugerah Allah, FIM merupakan salah satunya.
Pastinya atas izin Allah sematalah suami yang begitu sibuk mau mewujudkan ide kecil saya menjadi kenyataan. Dan semua ini juga tidak akan pernah terealisir jika saja Allah juga tidak menggerakkan hati para kawan-kawan dan keluarga besar kami untuk menyokong dalam berbagai bentuk. Makin ke sini saya makin menyadari bahwa harapan terhadap FIM yang tanpa terasa sudah memasuki tahun ke lima sekarang ini, sangatlah besar. Asumsi itu terhimpun atas saran dan komentar yang masuk. Terus terang kami yang bukan siapa-siapa ini merasa terbebani atas harapan yang demikian besar itu. Namun kami tidak menutup mata, meski tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak, Insya Allah FIM dengan kegiatan pelatihan kepemimpinan ( sebagai salah satu kegiatan utama ) akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, jika makin banyak tangan yang bergandengan.

Saya InsyaAllah tentu tak lupa bersyukur dan mengucapkan terimakasih atas semua yang kalian wakafkan untuk bisa saling berhimpun menyatukan spirit perjuangan, terutama para kekasih hati, ananda para panitia alumni FIM 1 sampai 5 yang jauh-jauh dengan riang gembira datang dari ujung Sumatera, Jawa Barat, dan yang dari Singapura.
Tak lupa saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika kelemahan kami tanpa sengaja terlanjur melahirkan kealpaan dan kekhilafan yang telah mengecewakan atau mungkin melukai kalian.
Teringat kata pak MT Widodo waktu training FIM V hari pertama tentang kata ” kunang-kunang” , sayapun terkenang kembali akan perjalanan panjang saya bersama Maghleb, sang belahan jiwa saya, serta beberapa crew film ” Menghimpun Kunang-Kunang ” di tahun 2003 – 2004 lalu. Kami menyusuri beberapa daerah di tanah air, mengintip para pejuang-pejuang di jalan sunyi, yang dari tangahnya berusaha mewujudkan suatu pendidikan gratis untuk anak-anak jalanan dan yang termarjinalkan.

Sebagai illustrasi film dokumenter tersebut, saya dan kak Sur menciptakan sebuah lagu yang liriknya sangat pas jika kini juga saya tujuan buat kalian yang saya banggakan, para tumpuan nurani yang tengah membaca tulisan ini. Simaklah baik-baik… ……

Kilau cahayamu, memang tak seberapa
Kepak sayapmu mungkin takkan menghentak dunia
Terangmu hanyalah, sahabat orang desa
Mainan bocah kampung di gelapnya beranda

Dan kutatap lagi, dikau kunang-kunang
Terangmu berpindah dari hutan bambu
Ke rumpun pisang di pinggir kolam,
berbatas sawah di rumah nenek….. ooh indahnya

Meski kerlip cahayamu kecil
Redup, tak amat terang
Namun tetap yakin menyinari malam
Kunang-kunang kecilku jadi penerang

Berhimpunlah dikau wahai kunang-kunang
Taklukkan pongahnya malam kelam
Berhimpunlah dikau wahai kunang-kunang
Di bumi Pertiwi kita ciptakan bintang-bintang.

Anandaku sayang,
masalah kepemimpinan memang bukanlah wacana semata atau hanya sekedar retorika.
Kepemimpinan adalah suatu tindakan nyata.
Jalan masih jauh, bangsa kita masih terseok-seok meniti lumpur peradaban dan cobaan yang kian hari kian menggila.
Kalian harus selalu sehat, kuat, rukun, saling mencintai, saling membela dalam kebenaran untuk melewatinya.
Cinta dan doa kami akan menyertai senantiasa !
Insya Allah…. Amin Ya Rabb.
( Ibunda Tatty Elmir )

surat di millis rumah_fimers@yahoogroups.com setelah pelatihan FIM V

14 Tanggapan ke “Menghimpun Kunang-kunang”


  1. 1 mierza darsya Maret 28, 2008 pukul 6:04 am

    teringat akan sebuah perjalanan bersepeda di waktu senja 15 tahun yang lalu, melintasi sawah di sekitar rumah, berjalan di rerumputan tegalan sawah, dan mencari kunang-kunang.
    betapa riang hati ini mendapat sejumput kunang-kunang dari sawah. saya simpan di dalam botol.
    malam hari, kunang-kunang berpijar, tapi saya takut, khawatir kunang-kunang berubah jadi kuku setan orang yg sudah meninggal….
    (anak kecil emang gampang dikibulin)

  2. 2 Sutan Rajo di Langik Maret 30, 2008 pukul 5:43 am

    seekor kunang2 hanya akan menerangi sepetak kosong kamar sunyiku….

    tapi jika beribu kunang2 berkumpul, satu negara akan terang benderang…..

    – Darma Eka Saputra –
    —– FIM IV —–

  3. 3 daeng limpo Maret 31, 2008 pukul 8:47 am

    numpang baca….bagus bu.

  4. 4 Mc Attack Maret 31, 2008 pukul 2:38 pm

    tapi jika beribu kunang2 berkumpul, satu negara akan terang benderang…..

    Apalagi kalo semuanya berubah jadi kunang2 itu sendiri.

  5. 5 Jabal Nur Jalarambag Makassar April 10, 2008 pukul 7:18 am

    di kampung’ku dlu, sy berebut dgn teman2 seusia’ku untuk mendapat’kan kunang2…
    dengan satu harapan, saya bisa bermain dgn cahayaNya…
    CahayaNya U/ kegelapan..
    tpi ternyata kegelapan jg punya makna tersendiri..
    mari bangun bangsa kita dngan sdikit cahaya.

  6. 6 Novia April 14, 2008 pukul 3:07 am

    wah, profesi kita sama mba Elmir.. :)

    hmmm.. kunang-kunang..
    yang tersimpan indah dalam kenangan..
    menjadi inspirasi sebuah perubahan..
    bumi Indonesia yang kita idam-idamkan..

    :)

    novia salsabila,
    calon FIM VI :)

  7. 7 Adil Quarta Anggoto April 15, 2008 pukul 3:57 pm

    Soal cerita ayam, sapi dan kambing… aku gak mau jd semuanya… aku gak mau jd sapi yg cuma bisa mengingatkan tanpa berbuat apa-apa…

    Aku mau jd kunang-kunang yang bisa bercahaya… setidaknya aku bisa berbuat sesuatu…

  8. 8 Aguntaran April 25, 2008 pukul 7:07 am

    kalo saya, memilih jadi manusia yang bermanfaat saja.

  9. 9 hmcahyo April 25, 2008 pukul 7:50 am

    saya kesasar kesini dari blog tetangga :)

    salam kenal dari malang :)

    http://hmcahyo.wordpress.com

    http://hmc.web.id -> learning english-indonesian thru’ nasheed

  10. 10 andrie Mei 5, 2008 pukul 2:24 pm

    rekan” FIM tercinta,
    menyenangkan jadi paling tua di FIM VI

  11. 11 arya (fim6) ipb Mei 6, 2008 pukul 4:58 am

    bangkitlah negriku
    harapan itu masih ada

    berjuanglah bangsaku
    jalan itu masih terbentang

    jayalah selalu negeriku!

  12. 12 sigit dwi antoro Juli 8, 2008 pukul 1:17 am

    di merden masih seperti itu bu…
    kapan main ke merden lagi?

  13. 13 danny Oktober 14, 2008 pukul 6:58 pm

    hii… mampir pertama kalinya sewaktu browsing mencari/ memperluas pandangan tentang pro kontra ruu pornografi…

    terima kasih untuk tulisan2nya

    SEMANGATZ

  14. 14 Adhe Quthb Maret 31, 2009 pukul 8:59 am

    semoga kita tetap dan akan selalu tidak menyepelekan kecilnya kemerlapan kunang2 itu….


Tinggalkan Balasan




AddThis Feed Button

Forum Indonesia Muda

Mata air yang tak berbingkai yang akan mengaliri tanah air yang subur ini !! Mata air yang senantiasa terjaga kebersihan, kejernihan, dan kesuciannya agar yang dialirinya juga menjadi bersih dan bemanfaat !! Salam cinta dan doa

Tanya Jawab

Banner

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 22,466 hits

Visitors

counter