SAY NO TO PORN
Tatty Elmir
( Ket II ASA Indonesia )
Manisnya apel demokrasi buah dari reformasi yang 9 tahun lalu digulirkan, semua sudah kita nikmati. Namun kekhawatiran banyak orang ketika angin reformasi bertiup dengan kencang pasca lengsernya presiden Suharto tahun 1998 juga terbukti sudah. Bahwa euforia reformasi ini akan ditandai dengan ditabuhnya genderang liberalisasi media sekeras-kerasnya. Dan seketika akan ada penyelinap yang memanfaatkan kesempatan. Dialah kapitalis yang berdiri di belakang industri pornografi yang dengan segala kelicikannya mengemas dengan berbagai label yang memukau, menyaru, dengan media sebagai tunggangan. Dengan keuntungan sekitar 7 milyar USD pertahun, mereka dengan sigap akan membelit dengan ganasnya laksana gurita raksasa. Tentakelnya antara lain, media cetak, televisi, internet, handphone, film layar lebar di bioskop maupun yang dicetak di dalam kepingan VCD/DVD.
Saat ini bukan hanya kepingan VCD/DVD porno yang begitu murah (Rp 2 ribu/keping ), namun juga begitu banyak media cetak dijajakan di jalan-jalan, di depan sekolah bahkan ! Sebagian besar memuat gambar-gambar porno dan iklan wanita panggilan dengan begitu gamblangnya !
Anak-anak teramat mudah terpapar dengan pornografi tanpa disengaja. Misalnya ketika disuruh oleh bapak dan ibu guru mereka mencari data di internet tentang binatang tertentu misalnya. Olala, setelah diklik dua kali, ternyata yang terbentang di layar adalah gambar-gambar yang sangat tidak layak moral dan menciderai perkembangan kejiwaan anak.
Jangan heran jika kini kita menuai banyak kepahitan, seperti kenyataan tingginya angka perkosaan yang dilakukan anak-anak ( usia di bawah 18 tahun ) Data dari Lembaga Pemasyarakatan Tangerang menunjukkan, kejahatan seksual yang dipicu oleh pornografi menduduki peringkat ke-dua tertinggi setelah kasus narkoba. Hasil riset Yayasan Kita dan Buah Hati di daerah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi mendapatkan data bahwa lebih dari 80% anak usia 9-12 tahun ternyata sudah mengakses materi pornografi, dengan handphone sebagai media penyebaran terbesar, sedang tempat mengaksesnya sebagian besar di warnet dan di rumah sendiri.
Kita sungguh terhenyak menyaksikan berita-berita di televisi, hampir setiap hari selalu saja dikabarkan adanya kasus perkosaan yang melibatkan anak. Mereka tidak saja sebagai korban tapi juga pelaku. Lihat saja kasus di Rumbai Pekan Baru, dua pasang remaja SMP setelah menonton video biru bareng kemudian melakukan pesta seks dan menonton kembali. Mungkin karena meniru adegan di film itu tiba-tiba mereka kompak menghadang dan menyekap bocah cilik usia sekolah dasar. 2 remaja putri yang sedang kerasukan setan itu melucuti semua pakaian si anak kemudian mereka memegang bocah-bocah tak berdosa itu sedang remaja putra pacar mereka memperkosanya. Di Sumedang, kupang bahkan di seluruh penjuru tanah air kasus serupa sudah pernah terjadi. Pemicunya ? lagi-lagi tontonan porno.
Para konselor remaja di YKBHI yang mengadakan pendampingan untuk anak-anak kelas 4-6 SD untuk menghadapi masa pubertas, diberondong oleh pertanyaan yang tidak lagi menyangkut masalah perubahan beberapa organ tubuh akan tetapi pertanyaan-pertanyaan yang mengekspresikan keterpaparan mereka terhadap pornografi. Ketika tulisannya masih berantakan dan belum lurus begitu, lihatlah pertanyaan mereka sedemikian bengkoknya :
” Bagaimana cara ’ngesex’ yang baik ?”
” Berapa kali seminggu dalam melakukan seks ? ”
” Puaskan memakai alat kontrasepsi ? ”
” Bagaimana memasukkan penis yang baik dan benar ? ”…
” Bagaimana melayani cewek yang gila seks ? ”
Hasil pantauan para konselor remaja tersebut menemukan, bocah-bocah sekolah dasar ini bukan hanya mengakses gambar-gambar perempuan telanjang, namun sudah menjamah hardcore porn berupa gambar bergerak adegan persetubuhan antara laki-laki dengan wanita, sesama jenis, bahkan dengan binatang.
Hasilnya membuat kita terhenyak, terutama bagi mereka yang pekerjaannya terlibat langsung dengan mereka, seperti yang dituturkan Dewi Inong Irara ketua divisi kesehatan ASA Indonesia yang merupakan dokter spesialis penyakit kulit/kelamin. Dr Inong kerap mendapatkan anak-anak di bawah umur sudah terkena penyakit kelamin. Orang tua mana yang tidak mengusap dada, mendapatkan anak-anak mereka yang pergi sekolah masih dimandikan, diolesi minyak kayu putih perut dan dadanya, ternyata sudah harus berurusan dengan dukun aborsi, dokter spesialis kelamin atau aparat penegak hukum karena tersandung materi porno.
DI MANA ANAK TERPAPAR PORNOGRAFI ?
Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati ( YKBH ) tahun 2007 terhadap 1581 anak sekolah dasar kelas atas ( kelas 4-6 ) di Jabodetabek, diperoleh data bahwa anak terbanyak mengakses pornografi lewat Komik 20%, Games 19%, Film/tv/ 19%, situs 11%, HP 10%, majalah 10%, VDV/DVD 7%, Koran 3%, Novel 1%. Sedang tahun sebelumnya, dari 1.740 anak di Jabodetabek yang menjadi responden, diperoleh data akses keterpaparan mereka terhadap handphone sebanyak 25%, komik 15 %, film layar lebar/televisi/ DVD/VCD 14%, Majalah 12%, Games 11%, Situs internet 9%, Koran/tabloid 3%, dan Novel 1%.
HANDPHONE
Teknologi membuat hidup lebih mudah. Tapi teknologi sekaligus juga menyisakan ampas yang kalaulah manusia tidak bisa mensiasati dengan bijak, justru akan membawa petaka yang kerusakannya jauh lebih besar ketimbang manfaat yang didapat.
Saat ini hampir semua anak sekolah mulai tingkat lanjutan pertama sudah memiliki telepon genggam. Bahkan tidak sedikit orang tua yang sudah memfasilitasi anaknya HP sejak sekolah dasar. Sebagian orang tua berlomba membelikan anaknya telepon genggam tercanggih, meski dia sendiri tak paham cara mengoperasikan semisal kirim bluetooth, mengakses internet dan sebagainya.
Hasil razia di sekolah-sekolah diketahui banyak anak-anak mengoleksi materi pornografi secara tidak sengaja dikirim kawan, atau juga ketika menservis HP ternyata sudah diisi dengan gambar atau video-video haram itu.
Data base ASA menunjukkan, sebagian besar foto dan video porno itu merupakan hasil rekaman kamera handphone. Lihat saja kasus video porno Bengkulu, Depok, Cibinong, Bekasi, Rangkas Bitung, Tegal, Bandung, Jogja dan entah mana lagi.
Ragam kasus foto dan video porno yang diproduksi telepon genggam ini berdasarkan urutan yang terbanyak merupakan hasil :
- Peeking:
foto&video yang dibuat pornografer dengan cara mengintip. Korban diambil gambarnya ketika sedang berada di toilet umum atau kamar hotel yang sudah dipasang kamera. Misalnya kasus artis Femy dan Sarah Azhari yang difoto ketika ganti baju di toilet sebuah rumah produksi.
- Private Party:
Dokumentasi pesta pribadi semisal kasus YZ dan ME
- Play Dare :
Permainan tantangan yang dilakukan sekelompok anak muda, misalnya taruhan siapa yang berani berfoto setengah telanjang, tampak dada, kemudian tawaran semakin tinggi, dan pose semakin ’gila’. Sebuah program televisi yang bisa diakses lewat TV kabel tahun 2006 bahkan menyiarkan adegan 2 pasang remaja bermain hockey dengan telanjang bulat.
- Monkey love :
Foto dan Video mesum para remaja yang tersandung cinta monyet. Mereka bereksperimen berpose dan beradegan seperti yang mereka pernah lihat/tonton. Kemudian pose dan adegan itu mereka abadikan. Kasus video porno Rangkas Bitung termasuk salah satunya. Pada tanggal 16 Agustus 2007 silam, 6 potong adegan persetubuhan antara remaja putri pelajar SMP dan remaja putra pelajar SMA di Rangkas Bitung ini dieksploitasi sebuah harian ibukota, dengan memajangnya di halaman depan sebagai headline. Kemudian ASA Indonesia mengadukan tindakan tersebut ke Polda Metro Jaya.
KOMIK
Siapa sangka komik anak-anak yang cover depannya terlihat selayaknya komik cerita dan dongeng anak-anak yang digambar ala teknik ’manga’ Jepang, ternyata bermuatan pornografis. Hasil laporan masyarakat, komik-komik yang pernah menggores perasaan orang tua karena ternyata memuat pornografi itu antara lain lain : Golden Boy, Time For Boy, Salad Day, Sinchan, Seven Seas, Nube, Gundam seed, Namaru gogo, Nakayoshi, Rave, One piece, Maya, Fighting girl, Orange, Angel kiss, Cherry, Alien Tarotanaka, Angel Lip, Afternoon murder, Detective Conan, Chobit, Amanda’s diary, Wild Angel, Tsuyudaku,Caur : Asyiknya jadi guru renang dan turunnya gadis desa ke jalan.
Komik-komik ini bukan saja sekedar menggoda anak-anak dengan pornografisnya, namun juga mencuci otak anak-anak dengan ideologi ’gila’ yang menghasut anak-anak membenci guru dan orang tua, serta pelajaran seperti matematika, biologi, bahasa dan memaki departemen pendidikan.
FILM LAYAR LEBAR/TELEVISI/VCD/DVD
Perjuangan para sineas kita untuk menjadikan film Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri agaknya setapak demi setapak kini mulai menampakan hasil. Intelektual dan pekerja seni yang terlibat mulai dari produser, penulis skenario, sutradara, pemain hingga crew memang 100% lokal, namun bagaimana dengan nilai-nilai yang disampaikan ? Ini yang jadi masalah !.
Film Buruan Cium Gue ( BCG ) sempat menuai kritik masyarakat pada tahun 2004. Namun setelah kritik reda, muncul film-film lain yang justru makin ganas menebar pesan yang jauh dari nilai-nilai luhur bangsa. Sebut saja film ” Virgin” yang memberikan ” Semangat” kepada remaja putri untuk tidak perlu ragu dan malu menjual keperawanan untuk sekeping telepon genggam berkamera. Ada Film ”Arisan” yang menceritakan kehidupan homoseksual ( padahal di negara tetangga Singapura ini sudah termasuk tindak kriminal dengan ancaman section 337 ).
Yang terbaru adalah film ” Quicky Express ”, yang secara gamblang memberikan tools kepada anak muda untuk menjadi seorang gigolo yang profesional, dengan tujuan mendapatkan kekayaan dalam sekejap. Selain mengkampanyekan kehidupan seksual yang menyimpang di kalangan atas, film ini juga menginspirasi orang untuk mengucapkan cerita humor cabul.
Jika malas dan sungkan menonton di bioskop, maka sekarang di pinggir jalan film-film tersebut dijajakan dalam bentuk VCD/DVD bahkan sampai di depan kompleks sekolahan sekalipun. Harganya cukup murah, hanya 2 ribu rupiah per keping. Itu termasuk VCD/DVD biru.
Lalu bagaimana dengan televisi ?
Saat ini jangkauan televisi teramat luar biasa. Apa saja gaya hidup anak kota, dengan seketika menjalar ke pedesaan. Mulai dari cara berpakaian sampai gaya bicara. Jangan aneh, di sebuah dusun yang sunyi di ujung pulang Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Irian, anak-anak muda saling memanggil dengan sebutan ” Lo-gue”
Menurut majalah Tempo edisi 19 Maret 2006, stasiun televisi TPI siarannya menjangkau 138 kota dengan 129,7 juta pasang mata memplototinya. SCTV menjangkau 260 kota dengan populasi 167,8 juta jiwa. Indosiar di 176 kota dengan 170 juta jiwa pemirsa dan RCTI di 390 kota dengan 169,9 juta pemirsa.
Ini yang lebih memprihatinkan. Jika film layar lebar orang memerlukan niat dan usaha yang kuat karena harus keluar rumah dan membeli tiket dengan harga mahal, tapi untuk televisi ? masyarakat tanpa pandang usia tinggal mengambil remote control dan sekali klik sudah dapat mengakses berbagai tontonan yang sangat tidak layak didik di ruang-ruang keluarga rumah tangga kita, bahkan di kamar-kamar pribadi.
Selain kekerasan dan tontonan yang berbau mistis, para pengusaha rumah produksi saling berlomba menjual mimpi dengan target anak muda sebagai korban dan pemancing. Begitu banyak film-film bermuatan pornografis diputar pada saat anak-anak belum tidur. Yang menyesakkan dada, film-film yang memberi pelajaran tentang tehnik berciuman hingga melegalkan seks bebas ini di kanan atas layar ditulis BO ( maksudnya Bimbingan Orang tua ). MasyaAllah..bimbingan seperti apa yang dapat diberikan para orang tua jika di layar kaca dipertontonkan adegan cabul antara sesama remaja dengan mengkesploitasi seragam sekolah, bahkan ada antara guru dengan murid, yang lebih gila adalah adegan percintaan antara ayah dengan anak bahkan sesama jenis. Herannya kenapa tontonan seperti ini lolos di media kita. Bukankah pemerintah sudah mendirikan lembaga sensor film ( LSF ) ? Sejauh mana Komisi Penyiaran Indonesia ( KPI ) punya kekuatan untuk mengatur materi penyiaran ? kenapa lembaga-lembaga yang mendapat tugas mulia ini terlihat tidak berdaya dan belum bekerja dengan maksimal sebagaimana yang diamanahkan ? Begitu besarkah kekuasaan indutri ?
Berikut daftar program /film di televisi & bioskop, yang dilaporkan masyarakat sangat menyinggung rasa susila masyarakat dan tidak layak tonton untuk anak dan remaja: Baywatch, Sims, Final Destinations, Funtastic 4, Taxi, X-man, Sinchan, Chaky, Playboy, Rave, American pie, Eyes’s Princess, Mahasiswa Telkom, Serial James Bond, C and R C, Harold nad Kuman, Winning London, Pearl Harbour, Titanic, Deep Blue Sea, Shark Attack, Sex is Fun, Animal-Human, Amanda’s, Animal Instinc, Love Actually, Serial Warkop, Virgin, Akibat Pergaulan Bebas, Quicky Express
MAJALAH
TS Seorang mantan model asal Indonesia yang biasa berpose bugil di majalah porno internasional yang kini bermukim di Singapura mengaku heran atas diijinkannya terbit majalah yang core bisnisnya pornografi di Indonesia. Di beberapa negara Barat yang dikenal liberal terhadap nilai-nilai, meski memberi ijin terbit majalah porno tersebut, namun tetap membatasi gerak peredaran untuk melindungi anak. Sedang di Indonesia beberapa majalah yang memang core bisnisnya pornografi, mulai dari penerbitan hingga pendistribusian tak ada aturan main. Ketiadaan payung hukum inilah yang membuat masyarakat tak berdaya sewaktu menuntut majalah semisal ”Playboy”. Tiga kali maju ke pengadilan, tiga kali pula masyarakat kalah.
GAMES
Hampir semua orang tua, membelikan anak mainan merupakan salah satu bentuk perwujudan kasih sayang. Celakanya kini tidak sedikit mainan yang justru menghancurkan anak itu sendiri. Contohnya playstations ( PS ). Banyak games-games di komputer dan PS yang luar biasa jorok semisal ” Tarzan ”.
Games ini memaparkan wanita telanjang dan si Tarzanlah yang dimainkan pada keyboard untuk meloncat meraih wanita-wanita itu. Jika wanita tidak teraih, maka tarzan akan kecemplung ke air, sebaliknya jika sudah menyelesaikan setiap level dengan sempurna, maka si Tarzan terlihat dilayar menyetubuhi si wanita. Semakin tinggi levelnya semakin vulgar pula gambar dan adegan bersetubuhnya.
INTERNET
Menurut riset Top Ten Review 2006, rata-rata anak berkenalan dengan internet pornografi di usia 11 tahun. Konsumen pornografi di internet terbesar juga anak usia 12-17 tahun. 90% di antaranya mengaku ketika sedang mengerjalan pekerjaan rumah ( PR ). Sebagian besar anak mengaku pertama kali mengakses situs porno secara tidak sengaja ketika sedang mencari ” suatu data ” yang diminta guru. Misalnya tentang binatang A, maka begitu diklik di internet ternyata yang keluar adalah gambar-gambar porno yang menjijikkan itu. Data ini juga didukung oleh YKBH dan menurut pengakuan anak, pornografi ini mereka akses karena iseng.
Saat ini penggunaan internet tidak saja menyentuh kota-kota besar. Namun hampir merata di tanah air, apalagi setelah beberapa tahun lalu Depdiknas bekerja sama dengan Depkominfo dan Depag, memfasilitasi sekolah-sekolah umum dan madrasah dengan perangkat internet. Bahwa anak didik akan mudah mengakses informasi tidaklah salah, hanya saja kebijakan ini tidak dibarengi dengan proteksi akan bahaya yang mengancam. Misalnya dengan memblokir situs porno.
Di Indonesia, situs porno komersial yang pertama dimulai pada tahun 2000. namanya www.exoticazza.com. Meski servernya di Amerika, namun semua modelnya Melayu asli. Yang menyedihkan, iuran keanggotaannya dapat ditransfer melalui BCA.
Pada tahun 2006 ( 6 tahun semenjak situs porno masuk ke tanah air ) tercatat 100.000 website pornografi made in Indonesia dari 4.200.000 situs porno dunia. Dari jumlah sekian tercatat 100 ribu website yang menawarkan ” child pornography ” dengan model sebagian besar anak-anak Indonesia. Beberapa tahun lalu seorang tokoh pornografernya pernah ditangkap di Bali, namun sebelum jaringan mereka terkuak, sang pelaku keburu bunuh diri di kamar tahanan.
Bisa dibayangkan berapa jumlah situs porno di Indonesia saat ini. Tak terhitung jumlahnya berapa banyak komunitas yang saling bertukar foto dan video atau berbagi cerita ”seru” di internet setiap detiknya. Ketika ditanya bagaimana perkembangan cyberporn di tanah air, ketua masyarakat Telematika Indonesia Maswigrantoro Rushadi mempersilakan yang berniat riset, untuk membuktikan di www.videokita.net atau www.17tahun2.com. Dari kedua situs ini saja bisa dengan mudahnya berselancar ke berbagai situs porno Indonesia.
KORAN/TABLOID
Meski baru beberapa tahun mencium aroma demokrasi, namun tidak terbantahkan, bahwa pers kita dilindungi oleh payung hukum terliberal di dunia. Berlalu sudah masa pembredelan. Tidak ada lagi budaya telepon yang menggentarkan insan media. Semua bebas menerbitkan koran, majalah atau tabloid. Kalau ada yang merasa dirugikan atas suatu pemberitaan, seseorang tidak bisa menuntut apa-apa, kecuali hak jawab di edisi berikutnya.
Tidak heran situasi ini menjadi ladang subur untuk para pornografer. Selain menjamurnya media yang menjajakan gambar cabul, beberapa koran berita, juga tak malu-malu lagi mengiklankan pelacur dengan kedok pijat kesehatan. Iklan telepon ”esek-esek” juga melejit meningkatkan penggunaan pulsa untuk sesuatu hal yang tidak produktif, mubazir, selain tidak memikirkan resiko akan terbaca anak-anak di bawah umur dan mencoba menelepon ke nomor itu.
Di sebuah sekolah favorit di daerah Jakarta Timur, pernah terjadi hal yang menggemparkan. Seorang anak menceritakan kepada kawan-kawannya bahwa sekarang kalau mau mainan ada nomor telepon yang bisa dihubungi untuk mengikuti dan memenangkan kuis di sana. Katanya pernyataannya begitu mudah. Anak tersebut mengaku diberi tahu ’seseorang’ yang berjualan mainan dekat sekolah. Tak berapa lama tersiar kabar yang luas tentang kuis berhadiah tersebut. Anak-anak sekelas buru-buru pulang ke rumah dan mencoba menelepon ke nomor tersebut. Ternyata setelah menelepon, nomor tujuan menelepon balik ke rumah anak yang bersangkutan. (Sepertinya pelaku sangat paham akan gaya hidup keluarga anak-anak di sekolah tersebut, bahwa di siang hari anak-anak hanya ditemani baby sitter atau pembantu). Ketika menelepon balik, di pelaku minta bicara kepada pembantu anak anak yang menelepon tadi. Pelaku memberi tahu bahwa si anak sudah menelepon wanita panggilan, dengan biaya sekian juta. Kemudian si pelaku menakut-nakuti anak/pembantu untuk menelepon kembali agar rekening telepon tidak jadi membludak, dengan cara menggantung telepon selama 2 sampai 3 jam setelah memutar nomor si pelaku. Sudah pasti semua anak-anak ketakutan aksi isengnya tadi diketahui orang tua. Maka merekapun melakukan semua instruksi penipuan si pelaku. Maka bulan itu rekening telepon di rumah para korban melambung berjuta-juta, tidak seperti biasa. Para orang tua hanya bisa mengeluh menyesalkan kenapa ada orang yang tega menipu dan mencelakakan anak-anak hanya untuk mencari nafkah ? Tragisnya…para korban tidak tahu harus mengadu kepada siapa, dan secara hukum juga tidak berdaya karena tidak ada payung hukum yang adil, dan tegas melindungi.
NOVEL
Meski tidak begitu berperan banyak sebagai penyebar pornografi pada anak, namun di Indonesia kini tengah trend penulis muda membuat novel-novel bermuatan pornografis dengan dalih sastra. Herannya sebagian besar mereka adalah anak-anak muda berjenis kelamin perempuan. Padahal pornografi di manapun, korban utama dan yang paling dirugikan adalah anak dan perempuan.
DI MANA ANAK MENGAKSES PORNOGRAFI ?
Menurut pengakuan 1705 anak SD di Jabodetabek yang disurvey YKBH, 35% mengakses dari warnet, sedang sisa terbanyak lainnya di rumah sendiri dan di rumah teman. Kalau mau membuktikan tengoklah warnet-warnet di manapun. Jangankan pada jam sepulang sekolah, di saat jam sekolah pun warnet dipenuhi anak-anak berseragam. Ada di antara mereka yang mengaku kecanduan ”games” hingga sering menginap di warnet langganan mereka.
Anggaplah betul yang membuat mereka kecanduan adalah ”Games”, jangan kita langsung mereka aman, karena games sekarang tidak sedikit yang juga bermaterikan pornografis.
To be continued
( Jakarta 19 Desember 2007, Tatty Elmir @ 0812 8177951 )
Komentar Terakhir